Arsip

Posts Tagged ‘Komaruddin Hidayat’

Belajar Mengajar

Oktober 12, 2012 2 komentar

Jangan pernah mengajar kalau anda sudah berhenti belajar

Orang kadangkala beranggapan kalau sudah menjadi pengajar, seperti guru, maka ia berhenti belajar.Seolah belajar adalah kewajiban bagi murid bukan untuk guru. Padahal guru dan murid sama-sama manusia yang memiliki kewajiban untuk selalu belajar. Sehingga praktik mengajar bukan final dari tahapan seorang yang sedang belajar. Belajar adalah sikap hidup. Sementara mengajar adalah pengabdian.

Hal 105, Komarudin Hidayat,250 Wisdom. Membuka Mata, menangkap makna.

—————————————————

Saya ingat tulisan Komarudin Hidayat diatas pada buku yang saya beli beberapa tahun lalu. Dan saya tidak pernah bosan untuk membacanya kembali. Dan tulisan diatas mengingatkan saya kepada teman yang beberapa minggu lalu menyatakan mundur untuk menjadi pengajar, karena alasan “capek”.

Baca selanjutnya…

Iklan

Kekuatan Hati

Bila anda bekerja dengan fokus dan sepenuh hati,anda akan merasa puas meski kelelahan.
Sesungguhnya, kekuatan terbesar manusia bukanlah pada tubuh, melainkan pada hatinya.
Oleh karena itu,ketika manusia mengerjakan pekerjaan dengan fisiknya, hanya letih yang didapatnya.

Namun, ketika manusia mengerjakan pekerjaan dengan kekuatan hatinya,ia akan mampu mengerjakan sesuatu yang lebih besar.

Contohnya sederhana, orang yang tengah dilanda cinta akan melakukan apapun demi yang dicintainya.Hujan badai dan petir pun akan diterjang.Itu semua karena hati telah dipenuhi oleh cinta, dan cinta adalah salah satu kekuatan terbesar dalam hati. Bila cinta itu melingkupi pekerjaan kita, tidak ada istilah tugas berat.Tidak ada yang namanya kelelahan. Semuanya akan terasa ringan.

250 wisdoms,halaman 32 — Komaruddin Hidayat

Cuplikan : Pendidikan Maju Negara Maju

Maret 29, 2010 Tinggalkan komentar

8etapapun buruk kondisi bangsa, jika kita serius memajukan dunia pendidikan secara merata, Indonesia akan gemilang menghadapi hari esok.

Musuh utama suatu negara adalah kemiskinan. Akan tetapi,ada yang lebih menakutkan lagi dari kemiskinan,yaitu kebodohan. Karena kebodohan merupakan kemiskinan yang paling rawan,yaitu kemiskinan pengetahuan. Bangsa yang miskin,jangankan untuk menghalau dan melawan bangsa bangsa luar, untuk berdiri bangkit sendiri saja tidak akan mampu. Bila kebodohan telah menggurita, suatu bangsa sebenarnya sedang membangun nisan kematian negaranya.

Sumber :

250 Wisdom. Komaruddin Hidayat. Halaman 259

Menebar Ketulusan

8antulah sahabatmu dengan tulus dan tebarkan vibrasi syukur pada tuhan. Semoga energi ketulusanmu akan menebar pada sahabatmu.

Sebagian dari kita selalu mengharapkan imbalan ketika membantu orang lain,padahal ketika kita bisa membantu orang lain, tentu merupakan anugerah agung yang telah diberikan tuhan kepada kita. Disini seharusnya kita bersyukur karena tuhan memberi kesempatan pada kita untuk bisa memberikan bantuan kepada orang lain. Bukan malah meminta kepada orang lain untuk bersyukur dan berterimakasih kepada kita.

Sumber :
250 wisdoms,membuka mata,menangkap makna. Komaruddin Hidayat..halaman 77.

Menata Organisasi hati

Krisis kepercayaan diri sangat berpeluang membuat kita mudah marah dan mengamuk.untuk itu,gali selalu pengetahuan hidup.Bekerjalah dengan sungguh2 demi ekonomi yang cukup. Lalu, berbagilah agar hati lebih lapang dan toleran.

Apabila kita mendapati orang yang suka marah,sesungguhnya ia adalah orang yang lemah. Ia lemah karena tidak mampu mengontrol dirinya.Jika ia pribadi yang kuat,tentu ia akan mampu mengendalikan diri untuk tidak menuruti hal-hal yang tidak tepat bagi dirinya.Untuk bisa mengendalikan diri dimulai dengan mengetahui diri kita sendiri.Rasanya mustahil kita bisa mengendalikan diri, sementara kita tidak pernah tahu,siapa sesungguhnya kita. Untuk itu, hiduplah dengan sewajarnya, gali pengetahuan dimana saja,bekerjalah dengan sekuat tenaga, lalu berbagilah kepada sesama.
Sumber :
250 wisdoms,membuka mata,menangkap makna. Komaruddin Hidayat..halaman 35.

%d blogger menyukai ini: