Arsip

Archive for the ‘Cerpen’ Category

Novel : #Tentang Ayah

Saya kangen banget sama ayah“, begitu Isan berkata kepada teman-temannya sekelas. Memang hari itu di hari pertamanya sekolah di kelas 4, masing-masing anak diminta untuk bercerita tentang liburan semesteran mereka kemarin. Isan berinisiatif untuk bercerita pertama kali, agar semua orang tahu bahwa ayahnya sangatlah dibanggain dan disayanginya.

liburan kemarin Saya memang tidak kemana-mana. Saya dan ayah cuma liburan dirumah aja, ayah kan pagi kerja, berangkat jam 7.00 setiap hari dan terkadang siang jam 12.00 pulang untuk istirahat dan makan siang, tapi jika kerjaannya dikantor agak sibuk maka ayah tidak pulang. Dan biasanya pulangnya jam 5 sore. “

Tiba-tiba ada yang bertanya ke Isan ” San, kok kamu bangga sama ayah kamu? kan tiap hari kerja dan jarang terlihat dirumah. Terus kadang-kadang sering lembur.”. Mendengar temannya bertanya tentang hal tersebut, Isan bukannya diam, tapiĀ  dia berkata ” Itulah Ayahku, sesibuk apapun dia selalu memberikan yang terbaik bagi kami. Saya ingin menjadi seperti ayah, tapi ayah bilang jangan, kata Ayah jaman saya nanti besar berbeda dengan jaman ayah sekarang, jadi kalo Isan jadi seperti Ayah maka Isan tidak akan berkembang dan selalu merasa ada dibelakang ayah terus.”

Baca selanjutnya…

Mimpilah yang tinggi

September 17, 2012 3 komentar

Kami di Masa ini di Tentukan oleh Kami di masa lalu

Percayalah padaku, kita pasti bisa mencapainya. Begitulah ucapanku pada Ari teman satu kamar pada malam itu. Sebagai anak kost yang sedang merantau, kesempatan malam seperti inilah sering kami gunakan berdua untuk berkeluh kesah, berkelakar dan menceritakan semua mimpi-mimpi kami nanti. Sambil memegang catatan perkuliahan, mengerjakan tugas kuliah sampai bercerita si gadis cantik dikampus yang dapat menjadi incaran.

Dengan uang kiriman bulanan yang kurang, memaksa kami untuk selalu berhemat. Makan berdua, sepiring ataupun menjual kepintaran kami kepada mahasiswa-mahasiswi hanya untuk mengisi kekosongan perut di esok hari, slalu kami lakoni.

Mahasiswa kere, itulah sebenarnya dan seharusnya dijuluki kepada kami. Tapi mimpi-mimpi kami kedepan ternyata begitu nyata, sehingga usaha keras ini sampai akhir selalu kami lakukan untuk mencapainya…

ternyata, itu 20 tahun yang lalu. Kenangan itu ibarat pendulum waktu yang mengingatkan kami akan kesuksesaan saat ini ditentukan oleh kami dimasa lalu.
Dan sampai akhir,Kami akan mencoba untuk bertahan, tapi bahkan tidak tahu kapan akhirnya.
dan selalu kami camkan waktu 20 tahun lalu itu begitu melekat sampai saat ini..

* fiksi untuk lomba di nulisbuku.com

Jatuh dan Bangkit, semua demi cinta

September 17, 2012 Tinggalkan komentar

([#FF2in1] ~ Flash Fiction 2in1 Sesi 17 September 2012 (1))

Jika pernah menjumpainya, mungkin tidak semua orang dapat merasakan betapa besar rasa cintanya. Sangatlah sulit untuk menggambarkannya. Menggunakan alat peraga apapun, ternyata sangatlah sulit untuk menggambarkannya.
Tapi begitulah sebenarnya cinta, apalagi ketika kita bersama, perasaan yang ada saat itu adalah untuk selamanya.

Kita pernah terjatuh dalam perasaan yang dalam sekali. Terjatuh dan dengan rasa yang terdalam dalam lautan luka yang mendalam. Sampai-sampai sangatlah sulit untuk menjelaskannya. Perbedaan nyata antara kita ternyata terkuak jauh dalam sebuah khianat.
Sangatlah sakit hati ini, terjatuh, tenggelam dengan lautan luka yang dalam.

tapi itu dulu dan saat ini ketegaran untuk bangkitlah yang menggerakkan semuanya dan saya yakin ketika rasa ini untuk selamanya, ketika kita bersama dan bisa berbagi rasa sepanjang usia.. Dan aku meyakini bahwa tanpamu aku seperti butiran debu.

*untuk lomba fiksi di nulisbuku.com

Cinta terindah untuk mantan Kekasih

September 6, 2012 Tinggalkan komentar

Terbaring dengan cantiknya, malam ini mantan kekasih yang selalu menemaniku
selama delapan tahunan ini. Suka dan duka selalu kita jalani.Saat senangmu, saat sakitmu. Dan percayalah kau tak akan ku sesali, sekalipun dalam hidup ini, sekalipun dalam pikiran ini.
Kita tahu selama ini awan hitam selalu menghantui hatimu dan hatiku..
bagaimana dia, yang selalu kita tunggu, seolah-olah menggrogoti dan menghancurkan kita.

tapi sekali lagi mantan kekasihku, relakanlah …. semua.. dan biarkanlah bintang yang akan kita tunggu itu …akhirnya nanti pasti akan menuntun kita .. pada suatu yang indah…

Kategori:Cerpen
%d blogger menyukai ini: