Beranda > Pendidikan > Belajar Mengajar

Belajar Mengajar

Jangan pernah mengajar kalau anda sudah berhenti belajar

Orang kadangkala beranggapan kalau sudah menjadi pengajar, seperti guru, maka ia berhenti belajar.Seolah belajar adalah kewajiban bagi murid bukan untuk guru. Padahal guru dan murid sama-sama manusia yang memiliki kewajiban untuk selalu belajar. Sehingga praktik mengajar bukan final dari tahapan seorang yang sedang belajar. Belajar adalah sikap hidup. Sementara mengajar adalah pengabdian.

Hal 105, Komarudin Hidayat,250 Wisdom. Membuka Mata, menangkap makna.

—————————————————

Saya ingat tulisan Komarudin Hidayat diatas pada buku yang saya beli beberapa tahun lalu. Dan saya tidak pernah bosan untuk membacanya kembali. Dan tulisan diatas mengingatkan saya kepada teman yang beberapa minggu lalu menyatakan mundur untuk menjadi pengajar, karena alasan “capek”.

Memang benar, mengajar dan menyampaikan ilmu merupakan suatu pengabdian. Orang yang mengabdi puluhan tahun akan merasakan banyak hal ketika ilmu yang dimilikinya bisa tersampaikan, berguna dan dapat memberikan suatu value yang berbeda bagi siswa yang diajarkan.

Pengabdian, mungkin akan terganggu dengan banyak hal dan salah satunya adalah materi atau pendapatan. Banyak kisah yang mungkin tidak perlu kita ceritakan disini. Tapi, memang menjadi pengabdi untuk pendidikan jauh dari kata bergelimangan materi. Tapi yang pastinya pengabdian diri itu akan selalu dikenang dan pasti bergelimangan dengan ilmu dan manfaat besar.

Kasihan teman ini yang menurut saya kurang atau belum memahami hakikat menjadi pengajar. Menjadi pengusaha sekaliber apapun menurut saya pasti ada proses pembelajaran disana. Ketika seorang pengusaha berani berkata, bertindak serta konsisten dalam menciptakan pengusaha baru maka diposisi itu sebenarnya proses pembelajaran, transfer ilmu dan pengetahuan akan berjalan…..Tapi menurut saya hal itu non sense untuk pengusaha, mungkin ‘negatif-nya’ saya para pengusaha akan takut menciptakan pengusaha baru, karena akan menjadi saingan mereka dikemudian hari…..:)

Teman ini, sudah 10 tahun menjadi pengajar,…saya kira ‘tekanan’ keuangan dan motivasi yang mempengaruhinya. Sayang sekali tindakannya dalam menyampaikan ‘keinginan’nya untuk ‘berhenti’ mengajar tidak disampaikan secara prosedural. Jadinya empati kepadanya kurang seiring waktu.

Memang godaan ‘rumput tetangga yang lebih hijau dari kita’  menjadi salah satu hal yang mempengaruhinya. Saran yang sebaiknya dilakukan untuk bisa mengabdi dengan baik adalah “luruskan niat, bermotivasilah dengan baik dan lurus, “.

Sukses selalu untuk kita semua.

salam

 

  1. November 9, 2012 pukul 3:53 pm

    Semoga sentilan ini menjadi pengingat kita semua bahwa ketika kita memilih pekerjaan sebagai dosen, kita perlu menyadari bahwa tiap pekerjaan memerlukan profesionalitas. Mengerjakan yang minimal saja tidak cukup. Bukan demi kepentingan naik jabatan tapi demi kepentingan penyebaran ilmu pengetahuan yang kita miliki. Kita sering meminta anak didik kita pantang menyerah, rajin belajar, kita sering mengeluh mahasiswa sekarang malas membaca kalau ada text book atau reference dalam bahasa Inggris, tapi apa yang telah kita lakukan? Banyak yang enggan mengupdate ilmu pengetahuan sehingga masih berkutat dengan teori lama yang mungkin sudah tidak aplikatif di dunia kerja. Banyak yang masih jarang berselancar di dunia maya untuk menggali berbagai ilmu entah bidang yang kita ajar, tips mengajar, bahan-bahan riset, cara aplikasi ilmu, dan lain-lain. Banyak yang masih segan menulis dengan berbagai alasan. Mungkin memang mahasiswa kita diberi yang standar saja belum tentu bisa mengunyah, tapi itu bukan alasan buat kita untuk terus mengembangkan diri. Di luar sana banyak sekali tersedia wahana untuk menyalurkan ilmu jika kita merasa misalkan untuk mengajar di kelas cukup materi dasar. Kita bisa membuat blog, berdiskusi di forum, aktif di komunitas keilmuan, menulis review, dan lain-lain. Ah, saya sendiri merasa sangat malu pada mahasiswa, selama ini saya sendiri sering komplain tentang mereka, padalah sepatutnya saya wajib memperbaiki diri saya. Semoga ke depannya kita semua terutama saya berubah menjadi dosen profesional, jangan sampai saya cuma nebeng statusnya saja.

    • November 13, 2012 pukul 2:34 am

      semoga kita selalu istiqomah dan slalu bisa konsisten dalam kehidupan ini dan dalam menyampaikan ilmu bagi siswa dan mahasiswa kita semua..

      salam kenal,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: