Novel : #Tentang Ayah

Posted on Updated on

Saya kangen banget sama ayah“, begitu Isan berkata kepada teman-temannya sekelas. Memang hari itu di hari pertamanya sekolah di kelas 4, masing-masing anak diminta untuk bercerita tentang liburan semesteran mereka kemarin. Isan berinisiatif untuk bercerita pertama kali, agar semua orang tahu bahwa ayahnya sangatlah dibanggain dan disayanginya.

liburan kemarin Saya memang tidak kemana-mana. Saya dan ayah cuma liburan dirumah aja, ayah kan pagi kerja, berangkat jam 7.00 setiap hari dan terkadang siang jam 12.00 pulang untuk istirahat dan makan siang, tapi jika kerjaannya dikantor agak sibuk maka ayah tidak pulang. Dan biasanya pulangnya jam 5 sore. “

Tiba-tiba ada yang bertanya ke Isan ” San, kok kamu bangga sama ayah kamu? kan tiap hari kerja dan jarang terlihat dirumah. Terus kadang-kadang sering lembur.”. Mendengar temannya bertanya tentang hal tersebut, Isan bukannya diam, tapi  dia berkata ” Itulah Ayahku, sesibuk apapun dia selalu memberikan yang terbaik bagi kami. Saya ingin menjadi seperti ayah, tapi ayah bilang jangan, kata Ayah jaman saya nanti besar berbeda dengan jaman ayah sekarang, jadi kalo Isan jadi seperti Ayah maka Isan tidak akan berkembang dan selalu merasa ada dibelakang ayah terus.”

Kemudian, teman lainnya bertanya “Kalo ayah Isan kerja terus, jadi Isan liburannya Kapan?. Kan kita liburan inginnya selalu sama keluarga. Kalau saya sih inginnya main aja..heheheee “, Sahut Budi yang kemudian di ikuti oleh si Inul.

Walaupun ayah bekerja, perasaan Isan 1 jam aja Isan sama ayah berasa udah berjam-jam. Isan dan ayah tidak main permainan apapun kok. Isan cuma denger ayah bercerita banyak hal, tentang masa kecil ayah, tentang semangat ayah yang ingin sekolah, tentang pekerjaan dan terkadang ayah cerita juga tentang hal-hal yang Isan nggak ngerti”. Isan terdiam, kemudian dia melanjutkan kata-katanya, ” Ayah pernah cerita, dulu kalo sekolah berangkat jam 3 atau jam 4 pagi, biasanya nyadap karet dulu atau ngumpulin macam-macam barang yang bisa dijual dipasar. daerah ayah tinggalkan dulu disebut desa, sedang ayah sekolah di kota. Ayah jalan kaki, kadang bersepatu, terkadang tidak. Tapi ayah ternyata suka sekali dengan ilmu-ilmu IPA. Ayah belajar menyimpan asa bahwa pendidikanlah yang dapat merubah dia, keluarga, dan desanya.”

Makanya ayah selalu menceritakan hal ini berulang-ulang kepada Saya. Saya pun jadi ingat dan berasa senang kalau dikasih kesempatan untuk terus bisa sekolah”.

Teman-teman Isan kemudian bertepuk tangan dan kemudian Isan menutup ceritanya hari itu dengan menyampaikan pesan dari ayahnya. “Kalau dikasih kesempatan sekali saja jangan sampai tidak diambil dan dicoba kesempatan itu, jarang ada penawaran kedua, ketiga dan keempat untuk suatu hal yang sama. Jadi kita mesti bisa menjalaninya.

*) ditulis untuk lomba novel tentang keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s